Pengertian Saksi Dan Persaksian Dalam Hukum Keluarga Islam

Pengertian Saksi Dan Persaksian dalam hukum keluarga Islam. Ditinjau dari segi bahasa, kata saksi atau persaksian dalam bahasa Arab disebut dengan istilah as-Syahadah (الشهادة), kata as-Syahadah merupakan bentuk mashdar dari kata (شهد – يشهد – شهادة) yang memiliki makna menghadiri (suatu perkara) disertai mengetahui secara langsung.[1]Juga disebutkan bermakna menghadiri (suatu perkara), menyaksikan dan mengetahui, sebagaiamana juga persaksian ini disebut al-bayyinah.[2]
Pengertian Saksi Dan Persaksian Dalam Hukum Keluarga Islam

Baca Juga Lainnya :

Secara terminologi, disebutkan bahwasanya saksi ialah seseorang yang memberitahukan secara benar atas apa yang dia lihat dan dia dengar.[3] Disebutkan pula bahwa saksi ialah orang atau beberapa orang- yang mengemukakan keterangan utuk menetapkan suatu hak atas orang lain.[4] Sebagaimana dinyatakan juga bahwasanya saksi berarti orang yg melihat suatu peristiwa atau orang yg diturutkan dalam suatu perjanjian tertentu.[5]

Dalam hukum acara perdata masalah saksi dan persaksian telah diatur dalam Pasal 165 RBg/139 HIR-Pasal 179 RBg/152 HIR, kemudian Pasal 306 RBg/169 HIR- Pasal 309 RBg/172 HI, dan juga dalam Pasal 1895 juga Pasal 1902-Pasal 1912 KUHPerdata.

Diakatakan oleh Sudikno Mertokusumo, kesaksian merupakan kepastian yg diberikan kepada hakim di persidangan tentang peristiwa yg disengketakan dgn jalan pemberitahuan secara lisan & pribadi oleh orang yg bukan salah satu pihak dlm perkara, yg dipanggil di persidangan.[6]

Pembuktian dgan menggunakan alat bukti berupa saksi diperbolehkan dalam semua perkara, sebagaimana telah disebutkan dalam Pasal : 165 RBg/139 HIR & Pasal : 1895 KUHPerdata, kecuali jika undang-undang yang memang menentukan hal lain, dalam tataran praktek telah di atur pula mengenai beberapa orang yg tidak dapat di dengar sebagai saksi dan yang dapat mengundurkan diri sebagai saksi, sebagaimana diatur oleh Pasal : 172 RBg/145 HIR, Pasal :  174 RBg/146 HIR, & Pasal : 1909 & Pasal : 1910 KUHPerdata.

Orang-orang yang tidak dapat didengarkan kesaksiannya itu adalah :

-  Keluarga se-darah (pihak yang berperkara) ataupun keluarga disebabkan perkawinan menrut keturunan lurus dri slah satu pihak.
-  Suami ataupun istri dri salah satu phak meskipun telah bercerai sebelumnya.
-  Anak-anak yg belum berumur 15 ( -- lima belas -- ) thun;
-  Orang gila meskipun terkadang jadi sadar / waras atau ingatan nya terang ataupun sehat.

Demikianlah penjelasan kami terkait dengan bahasan hukum keluarga yang bisa kami tuliskan untuk anda semua kali ini tentang Pengertian Saksi Dan Persaksian dalam hukum keluarga Islam. Semoga ada manfaatnya bagi anda terutama yang sedang mempelajari seluk beluk dan segala hal tentang hukum keluarga.

-------------------------------------------------------------------------------
[1] Ibnu Faaris, Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, jilid.3, 221.

[2] Ahamad Warson Munawir, Kamus Al-Munawir, Kamus Arab - Indonesia, Surabaya Jawa Timur: Pustaka Progresif, 2002, Cet. ke-25, hlm. 746-747.

[3]Ihsanudin, Muhammad Najib, Sri Hidayati, Panduan Pengajaran Fiqih Perempuan di Pesantren, Jogyakarta: oleh YKF dan Ford Foundation, 2002, 94

[4] Muhammad Abdul Mujieb, Mabruri Tholhah dan Syafi’ah, Kamus Istilah Fiqih, Jkarta:

PT. Pustaka Firdaus, 1994, 306.

[5] Burhani MS dan Hasbi Lawrens, Kamus Ilmiah Populer, Jombang Jawa Timur: Lintas Media),601.

[6] Teguh Samudera, 51.

Demikian dulu semoga ada manfaat bagi semua yang mengunjungi blog ini terutama bagi anda yang sedang mempelajari Ahwal Syakshiyyah atau Hukum Keluarga Islam.

Pengertian Saksi Dan Persaksian Dalam Hukum Keluarga Islam Rating: 4.5 Diposkan Oleh: BahasaArab.co.id

0 comments: