Pengertian Syiqaq dan Nusyuz Dalam Hukum Keluarga


Secara bahasa kata Syiqaq terambil dari akar kata syaqqa-yasyuqqu شَقَّ – يَشُقُّ -شَقٌmemiliki beberapa makna:

1. Kadang bermakna “setengah” النصف, sebagaimana dalam hadits : اِتَّقُواا لنَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ “Takutlah terhadap neraka walaupun dengan setengah butir kurma.”[1]

2. Kadang bermakna “kesusahan, kesulitan” المشقة, sebagaimana dalam hadits :

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلىَ أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ “Seandainya tidak menyusahkan atas ummatku, niscaya aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu.”[2] Ulama yang lain mengatakan terkait firman Allah : وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا... disebut syiqaq karena satu sama lain (suami dan istri) saling menyusahkan.[3]

Baca Juga :

3. Permusuhan dan perselisihan العداوة والخلاف, Syiqaq yaitu terjadinya permusuhan dan perselisihan.[4]

Dapat penulis simpulkan bahwa makna yang paling sesuai adalah makna kedua dan ketiga karena selaras dengan makna kata ini menurut istilah sebagaimana yang akan penulis bawakan dalam pembahasan di bawah ini.
Pengertian Syiqaq dan Nusyuz Dalam Hukum Keluarga

SYIQAQ MENURUT ISTILAH

Menurut istilah, syiqaq adalah perselisihan terus-menerus yang terjadi antara suami dan istri yang mengakibatkan hubungan pernikahan tidak bias dilanjutkan.[5] Pengertian ini sesuai dengan yang dirumuskan dalam penjelasan pasal 39 ayat 2 huruf f UU No.1 tahun 1974, pasal 19 huruf f PP No.9 tahun 1975 dan pasal 116 kompilasi hukum islam ;”…antara suami, dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga.”

Gambaran terjadinya syiqaq ini dapat dikategorikan menjadi 3 bagian sebagaimana disebutkan oleh para ulama. Pertama, terjadinya nusyuz dari istri kepada suami. Kedua, suami yang melakukan nusyuz terhadap istrinya. Ketiga, belum diketahui secara pasti pihak mana (suami atau istri) yang melakukan nusyuz.[6]


Nusyuz secara etimologi berarti tempat yang tinggi terambil dari kata نَشَزَ – يَنْشَزَ yang bermakna اِرْ تَفَعَ - يَرْتَفِعُ naik atau meninggi.[7] Adapun secara terminologi maknanya ialah maksiat (pembangkangan) seorang wanita terhadap suaminya dalam hal-hal yang diwajibkan Allah untuk ditaatinya serta kebencian dan kezaliman yang dilakukan seorang suami terhadap istrinya.[8] Makna kata nusyuz secara bahasa ternyata sangat erat kaitannya dengan makna kata ini menurut istilah karena suami atau istri yang melakukan nusyuz ini seolah meninggikan dirinya (angkuh dan sombong) serta enggan melakukan kewajiban yang harus di tunaikannya.

Permasalahan dalam membina rumah tangga mesti terjadi dan tidak selamanya permasalahan akan dapat diselesaikan dengan perceraian, Allah berfirman dalam al-Qur’an:

وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً

Ayat ini telah memberikan langkah-langkah serta tahapan-tahapan yang seharusnya ditempuh oleh pasangan suami istri sebelum memutuskan untuk melakukan perceraian tatkala terjadi nusyuz baik dari pihak suami maupun pihak istri, sehingga tidak selayaknya yang ada di benak seorang suami atau istri ketika terjadai permasalahan dalam rumah tangga adalah satu solusi yaitu perceraian, Ibnul Arabi berkata dalam tafsirnya :

من أحسن ما سمعت في تفسير هذه الآية قول سعيد بن جبير : يعظها فإن هي قبلت وإلا هجرها فإن قبلت وإلا ضربها فإن هي قبلت وإلا بعث حكما من أهله وحكما من أهلها

“Ucapan paling bagus yang pernah saya dengar terkait ayat ini adalah ucapan Sa’id bin Jubair : hendaknya (suami) menasihatinya, jika istri menerima (nasihat itu maka tujuan telah tercapai), jika ia tidak menerima nasihat maka hendaknya di-hajr (diboikot) jika istri sadar (dan kembali ke jalan yang benar maka tujuan telah tercapai), jika dengan diboikot tidak sadar juga maka suami boleh memukulnya, jika istri sadar (dan kembali ke jalan yang benar maka tujuan telah tercapai), namun jika belum sadar juga maka hendaknya diutus 2 juru damai (hakam), satu dari pihak suami dan satu dari pihak istri.[9]
-----------------------------------------------------------------------------

[1] Ibnu Mandzhuur, Lisaan al-Arab, bab syaqaqa شقق, vol.10, 182, Ibnu al-Atsiir, al-Nihayah fi Gharib al-Atsar, vol.2, 491. Adapun hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab az-Zakat, Bab “Ittaqu an-Naar walau Bi Syiqqi Tamrah wa Qalil min as-Shadaqah”, no.1328, vol.2, 513. 

[2] Ibid. 3. Adapun hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari, Kitab at-Thaharah, Bab as-Siwak Yaum al-Jumu’ah, vol.1, 303, no.1997. 

[3] al-Raazi, Mafaatih al-Ghaib, vol.4, 77. 

[4] Ibnu Mandzuur, Lisaan…vol.10, 183, Ibnu al-Atsiir, al-Nihayah…vol.2, 491 

[5] Al-Ulwani, Silsilah Qhadaya al-Fiqh al-Islami, Daar al-Kutub al-Arabi, 23. 

[6] Al-Nawawi, Raudhah at-Thalibin, vol.7, 367. 

[7] Ibnu Mandzhuur, Lisaan al-Arab, bab nasyaza نَشَزَ, vol.5, 417, Ibnu al-Atsiir, al-Nihayah fi Gharib al-Atsar, vol.5, 54. 

[8] Ibnu Qudamah, al-Mugni vol.7, 241. Ibnu Abidin, Hasyiah Ibn Abidin, vol.3, 545.Mahmud al-Mashri, Perkawianan Idaman, (Jakarta: Qisthi Press, 2010), 359. 

[9] Ibnu al-Arabi, Ahkaam al-Qur’an, vol.1, 535.

Pengertian Syiqaq dan Nusyuz Dalam Hukum Keluarga Rating: 4.5 Diposkan Oleh: BahasaArab.co.id

0 comments: